December 2016 - Bahrul.com

Monday, 5 December 2016

Mawar, Kamu Berubah

Aku lupa menceritakan ini, kejadian Dia dengan Mawar setelah kegiatan di tempatku. Seusai Mawar mengisi acara disana. Kurang lebih ceritanya seperti ini kalau aku tidak salah tangkap maksud dari Dia.☝

Waktu itu sekitar jam 12 siang, cuaca cukup bersahabat dan roman-romannya akan segera turun hujan. Hey, Dia bukan pawang hujan atau peramal cuaca. Dia hanya melihat kondisi alam lalu menyimpulkan. Benar, hujan turun saat Dia dalam perjalanann mengantarkan Mawar kembali pulang ke kosnya.💕

Aku ingin kembali ke waktu Dia sedang menjemput Mawar untuk ke Desa tempat Mawar akan mengisi acara.💣💫

Sebelum acara dimulai sekitar jam 9 pagi. Dia menjemput Mawar di kosnya di daerah sekitar kampus UIN Malang. Waktu itu kondisi hati Dia begitu kalut, melihat ada perbedaan dari Mawar. Tidak sama ketika awal berbicara melalui pesan singkat BBM. Sepertinya aku harus menceritakan Dia dan Mawar di pertemuan keduanya.

Pertemuan kedua…

Saat itu jam ditangan Dia menunjukkan pukul 12 siang. Sebelumnya Dia tidak ada janji dengan Mawar untuk bertemu. Hari itu hari selasa, dan pertemuan yang direncanakan seharusnya Rabu. Satu hari sebelum acara dilaksanakan. Tapi entah kenapa Tuhan seperti menasbihkan Dia dan Mawar untuk bertemu hari itu.

Sebenarnya Aku yang meminta Dia untuk melakukan pertemuan itu. Tapi aku pikir seharusnya tak perlu untuk bertemu. Karena Aku hanya meminta Dia untuk memberikan materi yang akan di sampaikan Mawar pada hari kamis nanti. Kalau perlu materi tinggal email dan beres sudah masalahnya. Tapi entah kenapa, sepertinya Dia rindu.

Akhirnya Dia bertemu dengan Mawar. Dia menemui Mawar di gedung fakultas kedokteran. Mawar sedang ada kuliah, atau hanya sekedar ingin bertemu dengan dosen untuk bimbingan skripsi mungkin itu aku tidak tahu pasti. Hay, aku lupa menceritakan. Mawar adalah calon perawat, cantik, lucu, imut. Ah sudahlah, aku pun tak tahu harus menggambarkan dia seperti apa. karena kata-kata tidak bisa menceritakan semua tentang Mawar. Apalagi Dia? Dia yang sedang terbuai dengan segala hal tentang Mawar. Sementara aku hanya mengerti melalui cerita dari Dia. Andai aku jadi Dia, aku bahagia. Sayang, Dia adalah temanku. Aku tak mau Dia terluka. Aku tak mau Dia sedih. Janganlah kamu sakiti Dia Mawar.



Dari kejauhan tampak wanita itu, Mawar. Menenteng helm dan mencoba menghampiri Dia yang memang sedang mencari dimana Mawar.

“Hey” Sapa Dia, tentunya dengan senyuman. Kebahagiaan, ah apalah itu luar biasa aku sendiri bingung mau nulis apa.
“Iya, aku dari tadi disini” dia berbicara dan tersenyum. Aku menulisnya dengan membayangkan senyuman Mawar. Kok aku bisa tahu, iya waktu itu kan dia mengisi acara di tempatku. Setidaknya aku tahu. Bagaimana Dia tidak bahagia, wanita yang dia cinta ternyata luar biasa.
“Iya maaf ya, aku gak bergitu paham dengan kampusmu. Aku paham kamu” Dia mencoba membuat Mawar tertawa. Dan, berhasil.
“Yaudah kita mau kemana?” Tanya Mawar.
“Entahlah, makan yuk” Tanya Dia sambil melihat wajah Mawar yang sedang duduk di belakang Dia.
“Yaudah jalan dulu, kita cari disekitar sigura-gura aja” Saran Mawar. Kalian harus tahu, sigura-gura adalah tempat dimana banyak makanan, banyak kos, banyak kemacetan dan ada Mawar disana. Kalian harus coba.
“Okedehhh, berangkat” Dia, bahagia.

Masih bingung, dan tak tahu mau kemana. Sembari diatas motor, Mawar menjelaskan apa yang dia lakukan selama dikampus. Dan ternyata sedang konsultasi dengan dosen untuk skripsinya yang menurutku keren. Mawar meneliti tikus, hehehe. Kamu pintar Mawar. Dia bahagia mengenalmu.

“Mau kemana ini?” Tanya Dia pada Mawar.
“Emmm, jalan terus deh nanti ada Mie Gentong *kalau aku gak salah denger*” Jawab Mawar.

Akhirnya Dia dan Mawar pergi ke tempat tersebut. Tempat yang sederhana, dan sepertinya enak. Aroma mie sudah tercium saat Dia dan Mawar memarkirkan motor cukup mengundang perut yang memang sudah kelaparan dan berontak ingin makan.

Pesan, lalu bayar…

Duduk menunggu pesanan datang. Bercerita segala hal, aku tak tahu jelas apa yang mereka bicarakan.

“Aku gampang deket sama cewe, lebih gampang temanan sama cewe daripada cowo. Gak tahu kenapa” kata-kata itu sempat terucap dari mulut Dia.

Mawar sepertinya berfikiran yang tidak-tidak. Omongan itu Mawar asumsikan bahwa Dia adalah playboy.

Perbincangan selanjutnya aku tidak tahu pasti. Yang jelas Dia meminta materi yang akan disampaikannya untuk teman-teman Dia yang meminta untuk dipelajari.

Setelahnya lalu pergi meninggalkan tempat makan tersebut.

Tapi selama hari itu sampai Dia mengantarkan kembali Mawar ke kampus untuk mengambil motor Mawar. Tak ada kesan dia marah, dia berfikiran enggak-enggak juga enggak ada. Tapi setelah mereka berpisah kembali ke peradaban masing-masing. Mawar berubah. Jutek, dan seperti tidak peduli.

Saat Dia berbicara “Kamu kenapa, aku ada salah?” selalu Mawar menjawab “Gak papa kok”.

Tapi Dia tahu, Firasatnya terlalu kuat untuk kebohongan yang Mawar tunjukkan. Sampai pada suatu sore…

“Kamu kenapa, udah jangan bohong. Aku tahu ada sesuatu hal ingin kamu tanyakan. Ada hal yang mengganjal dihatimu?” Tanya Dia.
 “Tidak ada apa-apa kok” masih dengan jawaban yang sama dari Mawar.
“Please jujur, ada apa?” Pinta Dia pada Mawar.
“Setelah acaramu aku ingin berbicara sesuatu kepadamu” Jawab Mawar.
“Apa? Kenapa tidak sekarang?” Dia begitu penasaran dengan apa yang ingin diucapkan Mawar.
“Sabar, dua hari lagi kok” Jawab Mawar.



Dia memaksa Mawar untuk berbicara waktu itu juga. Karena Dia memang tidak suka dibuat penasaran. Dengan pikiran yang berkecamuk, apakah Mawar ingin pergi, atau apalah. Dia tidak sanggup memikirkan apapun. Dia khawatir. Dia terlalu takut. Berlebihan ya Dia… tapi aku tahu dan aku memakluminya. Dia memang punya perasaan itu.

“Aku tahu, kamu pasti memikirkan omonganku tadi siang bukan?” Tanya Dia.
“Omongan apa, enggak kok” Jawab Mawar mencoba berbohong.
“Tolong jujur, iya kan?” Sekali lagi Dia meyakinkan Mawar.
“Enggak kok enggak” Mawar masih kekeh dengan jawabannya.
“Kamu mikir aku gampang dekat dengan cewek kan?” Tanya Dia.
“Nah itu tau.” Jawab Mawar.
“Maksud omonganku tadi siang tidak seperti apa yang kamu bayangkan. Aku hanya gampang dekat dengan cewek hanya anggap mereka teman. Dan memang temanku kebanyakan cewek. Itupun aku tidak menaruh hati kepada mereka. Karena mereka memang teman-temanku.” 
Penjelasan yang entah dapat meyakinkan Mawar atau tidak.

Aku tak tahu, yang jelas Mawar untuk sementara waktu percaya dan mencoba percaya menurutku.

Lalu pagi itu, kamis Dia menjemput Mawar di Kosnya… dengan suasana yang berbeda. Mawar berubah, entahlah … 💤💤💤

Sunday, 4 December 2016

Haruskan Dia Kecewa?

Aku akan melanjutkannya, cerita tentang Dia dan Mawar. Aku tahu persis seperti apa cintanya Dia untuk Mawar. Aku tahu, Dia lelah dengan cinta yang selama ini pernah ada. Dia yakin, Dia percaya kalau Mawar berbeda dengan cinta yang lainnya. Mungkin ini terdengar berlebihan, tapi seperti itulah cinta. Ketika kita merasakan bahwa pikiran terpenuhi dengan wanita yang sedang kita cinta. Persetan dengan mereka yang memandang semua ini sebelah mata.👀👀 👇👇👇

Dari percakapan itu, Dia merasa ada hal yang berbeda. Ada hal yang menyebabkan Dia berani terus menerus mencoba berbicara melalui chat. Aku rasa Mawar menyambutnya, tapi satu hal. Waktu itu aku sendiri juga melihatnya ada inisial nama seseorang dalam status BBM Mawar. “NSH” itulah nama lelakinya. Lelaki yang pada akhirnya aku tahu dia hanya laki-laki bodoh💇👎👎 yang mensia-siakan Mawar.

Dia lupa, bagaimana awal cerita Dia bisa mengetahui segala sesuatu mengenai laki-laki itu. Yang jelas, Mawar mau bercerita mengenai laki-lakinya. Ternyata mereka sudah lama berpisah, tiga bulan sudah mereka memutuskan hubungan. Lalu selama itu juga Mawar masih mempertahankan segala hal tentang laki-laki itu. Akhirnya akupun tahu, laki-laki itu telah bersama Mawar enam tahun lamanya. Itu bukan waktu yang lama, setara dengan aku berjuang mendapatkan gelar ijazah SD.😀😀

Aku tahu, Dia pasti tahu. Tidak mungkin baginya untuk masuk kedalam kehidupan Mawar dengan cepat. Tidak mungkin terjadi. Tapi dengan sikap Mawar yang begitu berbeda, seperti memiliki rasa yang sama pada Dia. Aku yang bukan ikut merasakan langsung pun dapat merasakan, Mawar ingin Dia.

Malam itu, sudah larut aku rasa 🙇. Dia ingin mendengar cerita tentang Mawar dengan laki-lakinya itu. Dia mendengar isak tangis Mawar, tangisan yang tidak berguna aku rasa. Meneteskan air mata demi laki-laki seperti itu. Laki-laki yang jelas-jelas telah membuangnya seperti sampah. Yang selalu mencoba untuk memungutnya kembali. Aku tahu, Mawar begitu menyayangi laki-laki itu. Enam tahun, bayangkan. Aku juga ingin memiliki hubungan seperti itu. Tapi tidak untuk ending dari hubungannya.

Dia mencoba meyakinkan, bahwa apa yang telah Mawar putuskan adalah benar. Dengan memutuskan hubungannya dengan laki-laki itu. Laki-laki yang tega bermain belakang dengan wanita lain. Dan Mawar bercerita, itu tidak untuk pertama kalinya laki-lakinya selingkuh dengan wanita lain. Lalu? Masih ingin seperti itu? Mawar, masih mau kamu menyimpan semua kenanganmu denganya? Foto? Segala macam tentangnya?

Aku rasa kamu gila… berhentilah kamu memunggungi masa depanmu. Disini ada Dia, walau aku tahu, Dia tidak akan dapat menggantikan laki-lakimu. Tapi setidaknya dia memiliki niat dan sikap yang lebih baik dari laki-lakimu itu.

Hay, ini masih berlanjut. Aku tak tahu kalian membicarakan apa. Aku rasa kalian membicarakan kisah ini secara jauh. Kedepan akan seperti apa bukan? Haha aku hanya menebak, belum tentu benar. Tapi sepertinya iya.

Sudahlah, jangan bersedih 😊😊. Kamu harus siap. Jangan takut, jangan pesimis, apapun itu. Dia selalu ada bersamamu. Kamu tahu itu bukan?

Malam itu…💬💬

Dia ada pertandingan futsal dengan remaja karang taruna desa, ini cerita masih berada di tempatku KKN.

Setelahnya, Dia membuka handphone. Melihat adakah pesan dari Mawar. Ternyata saat membuka BBM tidak ada pesan darinya. Yang ada hanya Mawar yang memperbaharui statusnya. Memperbaharui foto profilenya. But Diapun tak tahu, kapan tepatnya Mawar menghapus nama laki-lakinya itu dari status BBM nya. 😞😞

Lalu dia membuka Line, ternyata Dia menemukan pesan dari Mawar. Voice Note Mawar kirimkan, tapi sebelumnya ada kata-kata. Intinya Mawar berterima kasih, Dia sudah menjadi teman yang baik dan sangat baik. Sedih ketika membaca kalimatnya tapi seketika Dia tersenyum mendengar voice note dari Mawar. Dia menyanyikan sebuah lagu dari Yura- Berawal Dari Tatap. 💕💕💓💚💛💜💙



Tak tahu apa maksud dari kata-katanya. Teman yang baik? Jadi selama ini dia hanya menganggap teman? Baik? Tak ada hatikah Mawar?
Terpikirkan juga, apa Mawar ingin pergi? Menjauh?
Ah entahlah, Dia tidak tahu ingin berbicara apa lagi. Dia tak tahu seperti apa maksud dari Mawar.

“Maksudmu apa?” Tanya Dia. 😮

Entahlah, saat itu aku membaca pesan Mawar dari Handphone Dia sudah lupa apa perkataan Mawar selanjutnya.


Yang jelas, aku melihat malam itu Dia kecewa.

Friday, 2 December 2016

Boleh Aku Tersenyum?

Dia, temanku. Terlihat bodoh karena cinta. Ini tentang Dia, temanku. Dia sedang jatuh dalam cinta. Tentu kalian tahu, cinta itu suka dan duka. Dua hal yang tidak pernah terpisahkan. Jika dalam ceritaku sebelumnya aku menceritakan Dia yang terluka karena cintanya pada Mawar. Kini akan aku ceritakan detail ceritanya. Mungkin tidak sedetail kenyataannya, tapi seperti inilah ceritanya.😯😯

Sesudah pertemuan pada sore itu, Dia merasa jatuh dalam cinta, dalam bahagia akan indahnya manusia ciptaanMu Tuhan. Wanita itu, memang baik. Wajah yang lucu dan tutur kata yang lembut membuat Dia merasa wanita itulah yang Dia cari, dan saat ini adalah waktunya untuk Dia mendapatkan semua itu.



Saat itu ….☺☺

Dia mencoba menghubungi Mawar 👩, wanita itu akan menjadi pengisi acara dalam program kegiatan KKN di tempatku. Aku sendiri tidak tahu siapa wanita itu, wanita yang saat ini diberikan nama oleh Dia  dengan sebutan Mawar. Kala itu cuaca Kota Malang diguyur hujan, sementara Dia masih menghitung detik demi detik untuk memastikan Dia tidak terlambat untuk bertemu Mawar.

Pada hari sebelumnya Dia telah menghubungi Mawar untuk bertemu. Pertemuan itu sengaja hanya untuk membicarakan program kegiatan yang akan diisi oleh Mawar. Tak terbesit dalam benakku juga kalau pada nantinya Dia akan menemui Mawar. Karena aku rasa, aku sebagai ketua pelaksanapun cukup lewat chat untuk memastikan Mawar mau menerima atau menolak untuk menjadi pengisi acara dalam kegiatanku.

Dia memilih untuk menemui Mawar dan membicarakan segala sesuatu mengenai acara yang akan Mawar isi secara langsung. Karena menurut Dia, tidak etis rasanya meminta tolong kepada orang tanpa harus bertemu sebelumnya. Dia meminta waktu luang kepada Mawar utuk bertemu dengannya. Setelah proses tawar menawar waktu, ditemukanlah kesepakatan antara Dia dan Mawar untuk bertemu hari Sabtu siang jam dua di gazebo yang  letaknya terdapat dikampus Mawar. Kampus Dia dan Mawar berbeda.

Saat itu jam dua siang, dan hujan masih nyaman mengguyur bumi Arema. Masih menurunkan air dengan rintik hingga tak terdengar suara hujan dari dalam kamar. Ternyata hujan masih membasahi bumi. Aku kira juga waktu itu hujan cukup lama tak  kunjung redah. Hingga pada akhirnya hujan berhenti menurunkan air ke bumi.

Lalu Dia memutuskan untuk menghubungi Mawar,

“Sekarang ya? Masih hujan gak di kosmu?” tanya Dia pada Mawar melalui BBM.
“Iya gak papa, yasudah aku siap2 mau berangkat” Jawab Mawar singkat.
“Oke, kabarin ya kalau mau berangkat” balas Dia.

Seketika Dia langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Lalu sebelum berangkat Dia sempatkan untuk menunaikan kewajiban sebagai seorang muslim sholat ashar.
Setelahnya Dia langsung berangkat menuju tempat dimana yang telah disepakati antara Dia dan Mawar.

“Kamu dimana?” pesan singkat yang Dia kirimkan ke Mawar.
“Aku di Gazebo ini” Jawab Mawar.
“Sebelah mananya? Ini aku boleh masuk? Motorku gak ada stiker kampusmu.” Tanya Dia kepada Mawar.
“Udah masuk aja gpp kok.” Jawab Mawar.

Setelah yakin Dia bisa masuk ke kampus tanpa harus memiliki stiker, langsung dia menuju ke gazebo dekat dengan fakultas kedokteran.

Sesampainya disana, Dia merasa bingung, harus diparkir dimana motornya.

“Kamu dimana? Aku parkir motor sebelah mana ini?” tanya Dia pada Mawar.
“Kamu sebelah mana, biar aku samperin” Jawab Mawar.
“Aku didepan parkiran, motor hitam, helm hitam jaket hitam” Jawab Dia.

Beberapa menit kemudian muncullah wanita itu. Mawar

“Maaf, mas Dia bukan?” suara yang muncul dari belakang punggung Dia.
“Oh iya, Mawar?” Tanya Dia.

Setelah berbasa basi akhirnya Dia dan Mawar menemukan tempat parkir dan akhirnya merekapun duduk bersama dibawah gazebo. Disana mereka membicarakan konsep kegiatan yang akan dilaksanakan hingga seperti apa nantinya Mawar akan mengisi acara.

Lama mereka saling berbicara, hingga tak sadar mereka membicarakan hal-hal diluar konteks kegiatan. Ternyata Dia memiliki teman yang teman itu adalah teman Mawar juga. Ternyata dunia itu memang sempit ya. Berbicaralah akhirnya, dan ternyata teman Dia dan Mawar itu pernah menjalin kedekatan antara Dia dan teman dari Dia dan Mawar itu. Terlalu panjang dan rumit ya. Akupun yang mendengar cerita ini juga bingung, menulisnya pun cukup membingungkan harus seperti apa.

Waktu yang harus memisahkan Dia dan Mawar. Awan yang mulai menggerutu dengan mendungnya. Memaksakan mereka sesegera mungkin mengakhiri pertemuan pertama mereka. Karena menurut Ramalan Dia, hujan akan segera mengguyur kembali. Ternyata bakat meramal Dia benar. Dia sampai di kos, dan saat itu pula hujan mulai turun membasahi pertemuan mereka.

“Kamu kehujanan?” Tanya Dia dalam obrolan BBM.
Beberapa menit kemudian, barulah ada balasan dari Mawar.
“Iya kehujanan” Balas Mawar.

Dari situlah mereka memulai percakapan lebih dari sekedar teman. Bahkan mungkin ini adalah salah satu pertanda mereka memulai awal cerita kisah ini. Cinta, rasa yang selanjutnya dirasakan Dia. Entah Mawar, Dia dan akupun juga tidak tahu. Terbalaskan dengan senyuman atau kesedihan yang mendalam? Egois rasanya harus menjawab sekarang. 💕💕