November 2016 - Bahrul.com

Monday, 28 November 2016

Jangan Jadi Bangsat

Hai, sebentar lagi desember. Sepertinya masih sama dengan tahun-tahun yang lalu. Masih sendiri, masih tidak ada wanita. No problem. Memang susah untuk mendapatkan sesuatu hal yang kita inginkan. Terkadang Tuhan memberikan dengan caraNya sendiri tanpa kita sebagai makhluknya dapat menduga-duga kapan datangnya. Btw Tuhan mungkin tidak akan mengirimkan kekasih sampai aku bener-bener siap buat nikahin dia. Entah siapa itu.

Sedikit cerita ini temanku. Dia satu KKN denganku, tak perlu kusebut siapa dia. Kalian tahu fenomena KKN yang sudah terkenal melalang buana seantero jagat dunia persilatan? KKN adalah dimana ada benih-benih cinta bahkan benih anak. Dan aku percaya ini benar-benar terjadi.

Dia sudah lama sendiri. Entah berapa lama yang jelas dia mengatakan kondisi ini memang sangat-sangat lama. Lalu apa yang terjadi sekarang? Di tempat KKN, dia mulai merasakan cinta, bedanya dia tidak merasakan hal tersebut kepada wanita yang satu KKN dengan dia. Ini cerita tentang cinta dia dengan orang diluar KKN. Tapi dia masuk dalam KKN.

Beberapa hari lalu, ada kegiatan sosialisasi. Kebetulan dia PJ humas, sementara aku PJ ketua pelaksana kegiatan. Dari sinilah awal cerita, dia dan dia. Wanita itu, aku lihat memang baik. Pantas lah kalau dia tertarik. Laki-laki mana sih yang tidak jatuh dalam cintanya. Wanita itu dengan tatapan yang sayu, cukup untuk membuat laki-laki yang melihatnya merasa tenang, nyaman dan apapun itu rasa-rasanya tidak berguna.

Dari komunikasi dia sebagai PJ humas, tentu dialah yang menghubungi wanita itu. Wanita itu anak kampus sebelah. Jika dibandingkan dia (temanku) mungkin tak ada artinya. Apalah aku dan dia hanya ada dikampus yang bisa dikatakan memang ada dibawah kampus wanita itu.

Sepertinya ini awal dari segala petaka buat dia.

Singkat cerita, dia dan wanita itu bertemu di kampus wanita tersebut. Sebut saja nama wanita itu mawar. Dia cantik tapi menyakitkan. Nama yang pas bukan? Mawar juga indah. Tapi tak untuk disentuh karena akan menyakitkan.

Setelah pertemuan itulah mulai timbul rasa dari dia. Sementara Mawar? Entahlah, sejauh apa yang dia ceritakan ke aku, ada tanda-tanda dia memiliki ketertarikan. Tapi hanya dugaan. Yang pada akhirnya berakhir pada kesalahan.

Mawar, 3 bulan yang lalu putus dari pacarnya, diselingkuhin. Pasti rasanya luar biasa sakitnya. Aku pernah merasakannya. Yang sabar ya Mawar.

Tapi dia lebih sakit daripada Mawar. Dia sekarang merasa sedang terbang tinggi lalu tiba-tiba bumi menasbihkan untuk menarik dia kembali ke bawah dan mengehmpaskan seluruh tubuhnya ke bumi hingga hancur tak tersisa. Hati? Tak berbentuk.

Apa yang dilakukan Mawar aku rasa memang tidak harus dia lakukan. Sepanjang aku mendengarkan cerita dia (temanku) aku merasakan ini tidak adil. Setelah apa yang dilakukan oleh dia, Mawar membalas dengan sikap yang tidak biasa. Tidak sama dengan yang dia tahu saat awal perjumpaannya dengan Mawar.

Mawar, kamu tahu? Dia sakit. Ingin rasanya mengumpat kalau aku jadi dia. Ingin kukatakan juga kalau ini tidak adil. Sementara kamu sendiri harusnya sudah mengerti. Betapa sakitnya ketika orang yang kita sayangi tiba-tiba pergi. Apa kamu belum puas dengan perlakuan mantanmu? Apa kamu memang ingin melampiaskan rasa sakitmu itu kepada dia (temanku)?

Semoga Tuhan membalas segala perbuatanmu. Aku sebagai dia (temanku) pun aku tak akan terima jika diperlakukan seperti saat ini. Kamu kira kamu siapa? Kamu kira kamu segalanya?

Suatu saat nanti, kamu akan tahu. Betapa kamu telah salah melakukan hal ini kepada dia. Kamu pernah dengar? Orang di dzolimi adalah orang yang paling di ijabah oleh Tuhan atas doa-doanya.

Tak perlu dia mengumpat. Tak perlu, aku tahu dia. Dia baik. Hanya saja dia pasti memiliki batasan kesabaran. Entah seberapa, mungkin ini puncaknya.

Aku hanya ambil sebuah pelajaran berarti. Yang tidak aku dapatkan dari orang lain sebelumnya. Mengharapkan terlalu jauh kepada manusia itu salah. Karena manusia memiliki peluang untuk menjadi orang munafik. Tidak untuk Tuhan, Tuhan maha adil.

Ya semoga dia (temanku) diberikan kesabaran yang ekstra. Setalah apa yang telah Mawar perbuat. Permainanmu aku rasa cukup bagus. Cukup lah untuk pemain amatir kayak kamu. Andai itu kamu lakukan padaku. Sumpah serapah mungkin aku ucapkan. Tapi sudahlah, untung aku tidak mengenalmu. Hanya sebatas tahu. Dan dia sekarang cukup terpukul dengan apa yang telah kamu perbuat. Harusnya kamu tanggung jawab. Setidaknya kamu yakinkan penyebab semua ini terjadi. Kalau kamu bukan pecundang, pembual, dan sebagainya. Omongkan dengannya. Selesaikan, karena tidak elok rasanya kalian saling bermusuhan. Mungkin kamu tidak, karena kamu tidak dirugikan. Sementara dia? Rugi segala hal.

Oke gitu aja,




Jangan GOBLOK dengan wanita. Permainkan saja dia, untuk saat ini. Tidak untuk nanti menjadi istrimu. Karena banyak sekali wanita yang tidak tahu diri saat ini. Dikasih hati minta rempelo. Air susu dibalas dengan air tuba. Serius aku yang diceritain aja kesel. Gimana aku yang ngerasain beneran ya. Duh pengen siram tuh mukanya trs bakar. Hahahaha. Gak gak, santai aku lebih suka kubur orang idup-idup. Hahahahaha *ketawajahat*

Thursday, 24 November 2016

Mencintai atau Tai ?

Cerita ini aku tulis berdasarkan beberapa pengalamanku dan pengalaman teman-temanku. Ini tentang cinta, bukan saling tapi hanya mencintai. Mencintai orang yang salah? Aku rasa cinta tak pernah salah jika berdasarkan pada hati. Entah jika kalian berdasarkan nafsu, tentu itu salah. Filosofi cinta bukan lah nafsu, meskipun tidak dapat dipungkiri cinta terkadang menimbulkan nafsu. Omong kosong jika ada orang yang mengatakan “Aku tulus mencintai dia, aku terima dia apa adanya. Bukan paras, tapi sikap” Haloooo? Mungkin hanya beberapa tetes orang yang seperti itu. Sisanya? Sudah masuk di dalam.

Mencintai atau di cintai? Kurasa kalian tentu memiliki anggapan berbeda-beda bukan?. Percayalah orang memiliki kekuatan untuk mempertahankan ideologi masing-masing. Aku lebih suka mencintai, dicintai lalu kemudian. Terlahir sebagai aki-aki, sorry L nya kurang. Tentunya sudah tertanam jiwa berjuang, aku menjadi sekarang ini pun berjuang dari tetesan air ayahku yang berhasil mengalahkan tetesan lainnya untuk dapat berkembang biak didalam rahim ibuku. Ya, aku lebih suka berjuang, meskipun tak hanya sekali aku mendengar kata-kata “bahrul anak mamah, anak manja” terserah. Itu pandangan kalian. Tentunya kalian tidak tahu apa tujuanku. Yang kalian lihat adalah hanya beberapa tentangku.



Kembali lagi, mencintai memang susah. Butuh banyak sekali perjuangan, tenaga, pikiran bahkan tetesan keringat, tak kadang juga tetesan air spe*ma buat kalian yang ingin nikah dengan paksa karena terganjal restu orang tua dari wanitamu. Tapi tolong jangan diteteskan sembarangan. Dan ini bukan opsi yang baik, sebaiknya langsung siram jangan diteteskan. Engghhh

Dari semua mantanku, hingga sampai detik ini belum punya pacar lagi. Keseluruhan aku yang berjuang. Mulai dari kenalan, bahkan sudah kenalan baik eh pas mau deketin jadi malah kayak orang gak kenal. Ketemu dijalan pasti rasanya enggan buat menyapa dia. Bener gak? Itu cinta.

Apa sih enaknya berjuang? Enak banget. Aku bisa merasakan betapa aku ini masih memiliki banyak kekurangan dimata orang lain. Bukan berarti harus menjadi seperti yang dia (buruan/cewe) inginkan. Tapi setidaknya bisa menjadi orang yang lebih baik. Selain bisa menjadi nilai tambah didepan wanitamu, juga untuk orang lain yang mengenalmu. Calon mertua misalnya.

Mencintai harus siap segalanya, mulai dari tenaga, waktu, emosi, pikiran bahkan material yang bisa kalian beli di toko bangunan terdekat, semuanya terjual terpisah. Ayo buruan dikoleksi ya jangan sampai enggak. Ya, semua hal itu tidak dapat dipisahkan adanya. Bahkan mental juga perlu disiapkan untuk dapat menerima kenyataan bahwa cintamu tidak terbalaskan. Siapkan mentalmu jika hal tersebut terjadi untuk menghindari kestresan yang tak kunjung usai.

Berjuang memang asik, seru dan penuh tantangan. Tapi jangan sampai perjuanganmu mencintai orang itu salah. Maksudnya salah mencitai seseorang. Meskipun aku katakan pada paragraf sebelumnya kalau hati tidak pernah salah meninctai seseorang. Tapi harus dikatakan lagi, janganlah mencintai orang yang masih punya pacar atau yang sedang mengandung anak dari laki-laki lain. Serius bisa digampar suaminya.

Meskipun pepatah sering mengatakan “sebelum janur kuning melengkung” tapi rasanya tidak etis kalau harus merebut kebahagiaan orang lain. Percayalah, karma itu ada.

……………………………………

Halo…?

Rul ?

Bah?

….

….

….

Sorry kepotong tulisannya, barusan abis buang hajat. Si taik udah maksa keluar…

Lanjut ya..

Mencintai seseorang itu indah, anugerah, bahkan tidak bisa sembarang untuk mencintai. Jika saja hal tersebut semudah mensukai, mungkin dunia ini akan banyak sekali perkelahian merebutkan cinta. Untung saja perkelahian para pahlawan merebutkan kemerdekaan negara kita.

Mencintai, hahaha. Aku muak, sekalinya mencintai seseorang berakhir dengan penghianatan. Itulah alasanku sampai detik ini masih nyaman untuk sendiri. Bukan perkara pidana, atau trauma. Bukan!. Hanya butuh sedikit waktu saja untuk itu.

Mencintai tentu berharap dicintai bukan? Gila jika kamu katakan tidak!

Dicintai butuh waktu, proses, tetesan air juga perlu kalau mau maksa. Tapi jangan, sekali lagi jangan ya. Kasihan anakmu, kemungkinan besar tidak akan menjadi anak yang pandai. Berdasarkan googling dan isu yang beredar mengatakan “Kecerdasan anak berpengaruh terhadap umur ibu, semakin matang umur ibu maka anak semakin siap di santap”. Kan udah matang.

Pernah suatu ketika temanku, saat itu masih duduk di bangku SMA. Masa dimana kita bisa mengekspresikan dirimu sesukamu, mencari jati dirimu, dan mencari pasanganmu. Hahaha. Jadi dulu temanku, sebut saja Bagus. Nama aku samarkan, biar kalau dia baca ini tidak merasa aku ungkap kemalangan dia, bahkan kesurabayaannya.

Dia memiliki hati dengan Vita, wanita tinggi putih langsing karena dia kurus kekurangan gizi. But cantik kalau menurutku. Dikasih juga mau kok. Nah Vita kebetulan beda kelas. Dia ada di kelas IPA C sementara Bagus ada di IPA D.

Awal mula kisahnya adalah ketika kedua insan manusia yang salah menempatkan rasa ini bertemu dan mengenal lebih jauh berkat bimbingan belajar disalah satu lembaga, adalah pokok namanya. Gamau aku sebutin karena sampai sekarang tidak dapat endorse darinya. Beasiswa yang dijanjikan pun tak kunjung ada kabar, aku muak dengannya. Sama halnya aku muak denganmu. Bodoh.

Kebetulan aku satu kelas di bimbel itu juga dengan mereka. Aku lihat mereka sering duduk berdampingan. Dari situlah awal mula cinta mereka.
Dari mana aku tahu mereka saling cinta? Bagus yang cerita.

Singkatnya, mereka saling sms. Bbm waktu itu belum terjangkau. Hanya facebook. Itupun facebook jaman dulu tidak semudah sekarang ini yang makin canggih hanya dengan smartphone. Ya dari sms yang berkelanjutan dan dengan rentan yang cukup intens itulah menjadikan mereka saling memiliki rasa untuk memiliki.

Pernah aku ditunjukan beberapa potong kalimat sms mereka. Serius agak jijik bacanya, tapi anggaplah waktu itu aku membaca tulisan di minuman Ale-Ale dapat hadiah mobil avanza.

“Aku gak mau kamu pergi ya, aku mau kamu selalu disini …” itu titit-titit, eh titik. Sebenernya ada lanjutannya. Kalau gak salah itu panggilan sayang mereka, aku lupa.
“Iya aku juga kok. Jangan pergi ya…” serius aku lupa ini mereka panggilan sayangnya apa.

Ini kisah cinta, kisah dua insan manusia yang saling mencinta. Mencintai lalu dicintai, tapi ….
Ini hanya sesaat bahkan tipuan. Semua yang dikatakan adalah salah. Sesalah Bagus mencintai Vita. Kenapa salah?

Bagus sebelumnya sudah mengetahui jika Vita memiliki pacar. Diapun mengenal laki-laki itu, laki-laki itu temannya. Hanya saja mereka berbeda kelas. Vita dan Pacarnya sebut saja Andi, mereka satu kelas. Hay Gus, kamu bodoh~

Bagus hanya diberikan janji, janji dan kata-kata yang membuat dia berbelas kasih dengan Vita. Apa janji dan kata-kata itu?

Janji itu adalah untuk memutuskan Andi secepatnya. Aku rasa ini adalah jahat, meskipun dengan dalih hubungan mereka sedang dalam kondisi yang sangat berantakan. Hubungan yang sedang berada diujung manuk, bukan tapi tanduk. Maaf.

Kata-kata itu “Umurku tidak panjang lagi Gus, aku memiliki kanker dikepalaku”…
Siapa yang tak kasihan mendengar penyakit itu? Aku pun cukup terenyuh mendengarnya. Umur yang hanya sisa beberapa bulan.

Endingnya sih mereka akhirnya hanya sebatas kisah, kisah yang salah. Cinta yang salah, rasa yang salah, semua salah. Untuk mengumpat pun salah, karena kamu sudah salah dari awal. Seharusnya Bagus sudah mengetahui akhir dari kisahnya. Sementara Vita masih bahagia dengan Andi. Tapi kayaknya sekarang mereka sudah putus. Bagus mau ngulang lagi gak? Mayan ~

Fyi aja, Vita sampai detik ini masih menghembuskan nafasnya. Kabar terakhir yang aku lihat dari beranda facebook, dia makin cantik. Lumayan berisi sekarang, makin gedhe. Serius. Mungkin dia sudah sembuh. Alhamdulillah.

Bagaimana kabar Bagus? Dia masih berkutat dengan kuliahnya. Entah dia sekarang dengan siapa tak pernah ada kabar darinya. Sudah pintar kah Gus kamu?
Memang cinta terkadang membuat orang menjadi bodoh. Itulah kenapa banyak perumpamaan yang mengatakan cinta rasa taik ayam. Serius aku gatau gimana rasa taik ayam. Tolong dong kasih review bagi siapa saja yang udah pernah makan.

Nanti deh bahas dicintainya. Ini lagi mau proker KKN, jadi harus siap-siap dulu. Doain lancar segala sesuatunya. Amiin


Wednesday, 23 November 2016

Cerita Teman Berparasit


Cerita anak kos, serius gak ada abisnya kalau mau dibahas mulai dari awal. Punya cita-cita sih mau nulis semua pengalaman di kos, tapi ya gitu untuk memulai begitu susah. Persis kayak dapetin hatimu juga susah banget. Susahnya sih kalau kos sendirian gak ada temen dari kampung halaman kalau mau butuh bantuan itu agak sungkan minta bantuan anak kos. Secara gak begitu kenal akrab kan ya. Beda kalau sama-sama dari daerah asal, mungkin sungkannya gak ada. Saking gak ada sungkannya tuh pernah ada cerita gini.

Jadi dulu waktu maba aku kan beli printer, kebetulan temenku itu datang ke kos dengan dalih minta tolong print di kosku. Okelah aku bantu. Tapi apa yang aku bayangkan ternyata salah, dia menunjukkan file dia yang akan di print. Ku kira hanya satu atau dua lembar. Tapi ternyata berlembar-lembar dan itu full colour. Tentunya kalian tahu, ngeprint warna harganya berapa. Okelah, berhubung sudah terlanjur aku ijinin jadinya ya dia print sesukanya dia. Dibilang ikhlas sih ikhlas, dibilang enggak juga bisa. Dengan logika seperti ini.

Ikhlasnya, ya ikhlas orang dia udah terlanjur datang jauh-jauh ke kosku, dan dia juga teman masa kecilku sewaktu SD. Selain itu sudah mengiyakan, gak pantas rasanya kalau aku bilang jangan.
Gak ikhlasnya, kukira yang di print selembar – sepuluh lembar. Dan aku kira saat itu dia tidak begitu urgent buat ngeprint. Sama-sama anak kosnya kan ya. Jadi seharusnya tahu, bahwa semua ini butuh uang kawan.


Ternyata Tuhan mendengar rintihan anak kos. Ditengah jalan bahkan masih di beberapa lembar, printerku macet. Dan yang terjadi adalah printnya emang gak bisa. Warnanya gak mau keluar. Padahal kemarin-kemarin masih bisa loh. Ini adalah bencana sekaligus anugerah. Syukuri saja. Ambil hikmahnya, temenku urung untuk ngeprint lembaran-lemabarannya.

Dia gak miskin, dia cukup berada. Tapi ngeprint buat kuliahnya sendiri masa iya harus minta di temen lainnya. Wajar ya anak kos, beda lagi kalau sudah bisa menghasilkan uang sendiri.

Well, mungkin yang aku ceritakan setelah akan membuat opini kalian tentangku yang kalian kira perhitungan dengan teman sendiri. Enggak kok, hanya saja waktu itu sebelum dia ke kosku. Aku bilang ke dia buat beliin saos di minimarket terdekat. Aku titip dan nanti uangnya aku ganti kok. Itu hanya empatrebu doang.

“Oh ya, berapa tadi harga saosnya”
“Empatrebu sekian” aku lupa sekiannya berapa. Tau sendiri kan di minimarket harganya kadang suka ngawur. Struck pembelian sama yang di rak suka beda. *apahubungannya.
“Oh ini uangnya” ku rogoh dompet dan kuberikan beberapa lembar seribuan ke dia.

Kalau aku jadi dia, aku sudah melupakan harga saos. Sudah melupakan kalau itu dia titip beliin. Anggap aja sama-sama membantu. Tapi ini tidak, dia dengan mentolo menerima uang saosnya.
Ya beginilah resiko punya teman parasit. Mau nyusahin tapi gak mau di susahin.

Sebenernya sih bantuin masalah beginian gak masalah, gak terlalu aku fikirkan. Tapi ya itu, dia lagi tidak dalam kondisi urgent. Uang juga dia masih ada, banyak insyaAllah. Kenapa harus minta print ditemen? Kalau aku jadi dia, aku sungkan dan segan. Apa mungkin dia mau memcoba printer baruku? Entahlah

Dan sekarang, temenku itu terbukti parasit. Giliran dia dimintain tolong, boro-boro chat di bales. Di read aja enggak. Ya aku sih cuma bisa doakan supaya dia bisa jadi orang yang lebih baik. Heehhe
Sudah sudah, semoga tidak ada teman yang seperti ini lagi. Kalaupun ada, jangan dilestarikan. Apalagi harus di masukan ke cagar alam. Jangan, kasihan banget dia di cagar alam temenan sama tumbuhan langka. Bunga bangkai misal.


Memang Tuhan itu baik, menciptakan manusia dengan beragam sikap. Ada baik dan buruk, hitam putih, diluar dan didalam. Seperti itulah, indahnya dunia ini dengan berbagai perbedaan. Bisa merasakan benci, suka, sayang, cinta, tapi semua bertepuk sebelah tangan. Ah apa ini. 

Sunday, 6 November 2016

Pulang Kota Bukan Pulang Kampung

Anak kos, gak ada abisnya kalau mau bahas anak kos. Mulai dari awal menjadi anak kos hingga mengakhiri karir sebagai anak kos. Well, menjadi anak kos itu enak-enak gampang. Relatif enaknya dan relatif gampangnya. Tapi aku yakin, jadi anak kos banyak kangennya, terutama buat kalian-kalian pendekar kos yang memiliki kampung halaman nan jah dimato. Papua misalnya, kebayang kan betapa jauhnya? Misal kos di Jakarta, nah ukur aja tuh jarak Papua-Jakarta berapa centimeter di peta. Terus kalikan dengan perbandingan petanya. Misal 1cm mewakili berapa km. Kalau gakmau susah, buat kalian yang otaknya males dipakek mending pakek googlemap. Udah ketemu tuh jarak, keliling dan jari-jarinya berapa. Terus dicari deh volumenya. Masih malas ngitung? Gadaikan aja dipegadaian mayan otaknya laku kalau di Jepang.


Well, aku termasuk anak kos yang tidak merasakan apa itu rindu terlalu akut. Apa itu homesick kronis. Atau ruang rindu? Sungguh itu hanya judul lagu band Letto. Jarak Malang dengan kota tempatku tinggal kurang lebih setelah aku ukur-ukur di peta hanya 200-300 an km. bukan jarak yang begitu jauh, selama ini kalau pulang kampung hanya 3-4 jam saja sih yang aku perlukan waktunya. Eh tapi rumahku gak kampung-kampung banget, masih deket kota. Jadi namanya aku ganti pulang kota, bukan pulang kampung.

Tapi meskipun demikian, aku pernah merasakan awal menjadi anak kos itu rindu yang sangat teramat berat, kira-kira 5kg beratnya. Karena aku memang tidak terbiasa jauh dari kedua orang tuaku. So wajar, first time menjadi anak kos masih ingat dengan kehidupan yang lalu. Sama halnya dengan first kiss. Emmmhhh, anuu

Dulu sewaktu masih maba, sering banget yang namanya pulang kota. Kota ya, bukan kampung. Jadi kalau kuliah kan dari senin-jumat. Misal kamis ada tanggal merah, terus jumat kebetulan dosen nyunat anaknya. Itu merupakan kebahagiaan yang luar biasa, bahkan hal yang ditunggu-tunggu selain menunggu kedatangan jodoh yang entah dimana berada. Bener gak? Ada yang sama pernah ngerasain hal seperti itu? Kalau sudah seperti itu, otomatis langsung pulang kota deh. Lumayan kan, rabu sore setelah kuliah pulang. Kamis, jumat, sabtu dan minggu sore balik lagi ke kota perantauan. But tidak untuk hari jumat yang masih ada kuliah. Caranya? Lobby dah tuh dosen untuk meliburkan hari jumat, atau mengganti jam diluar hari jumat. Sabtu misalnya. *samaajawoi.

Tapi hal tersebut tidak berlaku kegembiraannya bagi mereka yang rumahnya nan jauh dimato. Mereka hanya bisa iri, kenapa mereka tidak bisa pulang dengan begitu gampang seperti aku. Selain karena jarak, mungkin juga karena biaya yang dibutuhkan untuk pulang. Bisa-bisa uang untuk pulang adalah uang jajan selama 1-2 bulan. Mending stay dikota perantauan. Setidaknya pulang nanti kalau sudah benar-benar libur panjang. Tapi aku salut sama mereka-mereka yang seperti itu. Kuat banget menahan rindu, kangen, dan ruang rindu.

“Kamu gak pulang sekalian?” Tanyaku pada sosok wanita astral yang iri melihatku pulang kekota halaman.
“Kagak” datar banget jawabnya.
“Kenapa Emang?” Tanyaku penasaran.
“Rumahku jauh” jawab dia
“Dimana emang?” Tanya lagi ku yang makin penasaran. Sejauh apa sih.
“BEKASEEEHHHHHHHHHHH” Jawab dia dengan nada seperti suporter sorai-sorai.
“Bekasih NJIRRRRR, pantesan.” aku ngakak. Karena Bekasi nan jauh dimato, luar planet BUMI.

Gak bisa bayangin aja gak ketemu orang tua, sodara, kakek, nenek, buyut, pacar bagi yang punya, selingkuhan bagi yang punya, atau ketemu mantan bagi yang punya juga. Aku aja yang pertama maba jadi anak kos sedih banget, malah sempet nangis sih, untung nangis barengan sama ujan jadi gak kelihatan. Tapi jangan bilang siapa-siapa kalian yang sudah baca ini. Ini rahasia kita.

Makin kesini, makin menjadi mahasiswa basi mahasiswa tingkat akhir. Pulang merupakan hal yang membosankan bahkan kalau bisa aku sih gak usah pulang juga gak masalah. Karena dirumah juga mau ngapain, kerjaan hanya tidur, makan, buang taik, makan lagi dan begitu seterusnya sirkulasinya.
Lebih baik dikota perantauan. Setidaknya ada banyak sekali sarana prasarana misal mau mengerjakan skripsi ya tinggal ke perpustakaan kampus, cari bukunya terus kecengin cewe diperpus, cewenya kabur, aku kabur, ternyata kampusnya mau tutup udah malam.

Gak sih, Cuma lebih enak aja gak pulang. Pulang-pulang nanti udah wisudah aja, sampe orang tua juga gatau anaknya sudah wisudah. Sampe dirumah gagal paham. Ini kuliah apa beli ijasah doang?
Baiknya itu memang jarang pulang, karena aku sendiri pulang adalah hal yang sangat tidak dianjurkan oleh orang tuaku. Meskipun jaran, eh jarak yang gak begitu jauh. Tapi orang tua selalu khawatir denganku yang pulang ke kota berkendara dengan motor. Takut terjadi apa-apa selama diperjalanan. Ada benernya juga sih, pulang pas udah libur panjang biar gak balik bolak ngukurin jalanan.


Oke gitu aja kali ya, aku minta doa dari kalian semua yang sudah rela baca tulisan ini. Doain skripsiku lancar. Paling gak awal semester 8 sudah sidang. Alhamduillah sekarang sudah penelitian. Doain aja yang terbaik buat skripsiku hehehe. Semoga doa baik kembali ke kalian semua. Amiin…