Bahrul.com

Saturday, 16 May 2020

Review Sepatu Lokal Ventela Public Suede Low Green

Sebelum masuk dalam tulisan, aku ingin mengucapkan Marhaban Ya Ramadhan. Selamat menjalankan ibadah puasa Tahun 1441H. Semoga puasa kita dilancarkan dan diterima oleh Allah SWT.

Nah kali ini aku mau review sepatu lokal lagi. Ventela. Setelah sebelumnya aku review sepatu ventela back to 70’s High (Kawenya Converse 70’s), sekarang ini aku mau review sedikit tentang sepatu Ventela Public Low Suede (Green Colour).



Sebelum masuk ke review sepatu, aku mau sedikit menjelaskan tentang ventela ini. Jadi sebelumnya ventela Public low sudah pernah di rilis. Nah yang terbaru ini ventela public low tapi yang suede. Apasih suede? Nah suede ini kalau dari mbah google, sejenis kulit dengan proses finishing yang menghasilkan tekstur lapisan yang sangat halus. Kurang lebih seperti itu ya. Kalau mau detailnya seperti apa kalian bisa langsung searching di Youtube atau google, atau kalau yang penasaran banget bisa langsung beli Ventela yang terbaru ini public low suede. Suee lo ah…

  

Nah temen-temen sekarang langsung aja ya review sepatu ventela public low suede. Asli aku ngetik title sepatu ini lama-lama capek juga. Karena apa? Iyalah panjang banget njir.

Karena kepanjangan, untuk postingan kali ini aku singkat aja ya jadi Suede aja. Cukup dipahami kan? Semoga.

Tapi, aku boleh cerita sedikit? Boleh kan ya…
Tentunyaaa.

Sebelumnya aku kepikiran buat jadi youtuber, aku perhatikan trend sekarang ini orang lebih suka untuk mendengarkan dan melihat. Bukan membaca dan melihat. Jadi blog sekarang ini sudah jarang sekali digunakan sebagai wahana untuk mencari informasi. Yaa sebenernya ngiri juga sih sama mereka-mereka atau bahkan kalian yang pede abis dan punya passion didepan kamera. Karena sejujurnya aku orangnya pemalu, bahkan kadang malu-maluin.
Balik lagi ke cerita, awalnya aku pengen review ini di YouTube, tapi zonk dan gagal wkwk. Malu dan bingung harus mulai dari mana. Alhasil aku tulis aja di blog ini sebagai gantinya. Hehe

Oke sekarang kita lanjut ke review ventela suede nya ya..

Aku tahu sepatu ini dari review nya dr. Tirta, pasti kalian yang sudah lama berkecimpung di dunia sepatu lokal akan tahu siapa itu dia. Apalagi dia kemarin aktif untuk menjadi influencer Covid-19. Salut lah ya buat dia. Sukses mas..


Setelah lihat review tersebut aku jadi tertarik, padahal sebelumnya aku tidak pernah punya sepatu ventela public yang first generation (tidak suede). Tapia ku sangat tertarik dengan rilisan suede ini. Keren sih kalau dilihat-lihat. Cuma memang brand lokal di anggap murahan. Eh tapi jangan salah, meskipun murah, tapi kualitas nomor 1. Kita lihat saja pemakaian sepatu ini selama enam bulan kedepan akan aku review lagi. Yang jelas, Ventela dari hari ke hari melakukan inovasi terutama untuk kualitas dari produknya tsb. Tentunya dengan adanya peningkatan kualitas, ada cost yang harus di korbankan juga. Jadi jangan bilang Ventela makin mahal karena sudah terkenal atau naik daun. Tapi memang kualitas dari sepatunya semakin membaik. Gak percaya? Lest see, I will tell you a little bit.



# Harga
Seperti yang sudah aku katakan, harga memang mengalami kenaikan. Tentunya karena peningkatan kualitas sepatunya. Salah satunya ya mungkin karena dari bahan suede. Gak mungkin dong ya, bahan udah bagus tapi harga masih sama saja. Konsep ekonomi tentunya harus diterapkan. Mau murah? Mungkin bisa, dengan bahan yang dibawah standard sekarang ini. Salah satu contohnya adalah di perusahaan aku tempat kerja. Ada istilah lokalisasi material. Bukan lokalisasi perempuan ya, beda lagi nanti aku bahas di part terpisah tentang ini.

 

Lokalisasi Ini adalah perubahan material atau bahan yang semula dari Japan di pindah ke supplier yang ada di Indonesia. Tentunya kalian tahu kualitas barang dari Japan memang lebih bagus daripada lokal. Nah karena kualitas itulah cost bisa lebih murah dari sebelumnya. Dimana ada istilah ada harga ada barang, mungkin seperti itulah.

Ngomongin harga, kalau public low yang generasi pertama harganya Rp. 200-270K an. Untuk yang suede version dibandrol di angka retailnya Rp. 349K. Cukup mendekati harga sepatu vans classic sih wkkw hampir setengahnya. Atau bahkan hampir mendekati harga Converse 70s Hi Rp. 500K (After disc) kan bulan-bulan ini sedang banyak diskon dimana mana ya.

 

# Canvas
Unutk canvasnya sih gak ada perubahan, masih sama seperti versi sebelumnya atau hampir semua ventela versi canvas. Jadi untuk yang satu ini tidak ada perubahan berarti. Tapi ada perubahan di aku, apa itu? Sekarang aku beli warna hijau royo-royo hehe.


#Shape
Untuk shape atau siluet nya Ventela masih sama juga bentuknya, mirip-mirip vans agak di bencongin dikit lah ya. Tapi untuk yang suede, bahan untuk shape atau siluetnya ini dari suede. Jadi lebih premium kalau kita perhatikan. Balik lagi, mungkin gak sih ventela bisa bikin shape atau siluet yang gak mirip-mirip vans? Atau memang shape ini akan menjadi ciri khas dari ventela. Entahlah


#Midsole
Untuk kali ini memang sedikit berbeda, kalau yang suede warnanya agak kekuningan dikit. Ini kalau menurutku ya jika dibandingkan dengan ventela public low yang biasa.
Terus di bagian depan nya juga sekarang ala-ala vintage nya Compass. Bentuknya seperti dagu Tanosh. Tau kan Tanosh? Itu pemain Avenger tangannya yang kayak Tesy Srimulat banyak cincin dan akik.
Salut sih sama ventela, lem lemannya itu rapih banget. Gak ada bau sisa lem juga. Baguslah kalau menurut aku. Lokal sekelas interlokal kalau ini.
Aku coba tekuk juga gak ada tekukan gitu. Ya mungkin bisa lebih awet sih. Hehe.


#Upper
Tentunya karena ini versi suede, dia juga untuk bagian upper sekarang menggunakan bahan suede. Yang bikin aku salut lagi sih suedenya halus banget, jahitan juga rapih. Gak ada cacat sama sekali.


#Outsole
Kali ini Ventela sudah memiliki outsole bagian bawah dengan modif V. Ya tentunya itu adalah itu awalan dari Ventela. Karetnya keras sih, mungkin lebih kuat kalau dipakai jadi gak gampang kekikis. Kalau yang sebelumnya dia masih menggunakan outsole khas Converse dan ada juga yang Vans.


#Helpad
Untuk series yang suede ini ventela merubau helpad nya menjadi tulisan ventela ala ala embost gitu wqrna hitam di bagian belakang dengan tulisan ventela. Menurutku sih kegedean. Kurang simple. Dan memang ventela ini logonya agak kurang sih. Kalau menurutku. Entah mungkin bagi temen2 ada yang suka. Aku sih enggak. Mending polosan aja dibagian belakangnya.

 

Ya kurang lebih sekarang membaik.

Kalau kalian tertarik bisa langsung bel idi reseller ventela banyak kok di shoopeatau yang lainnya.





Sunday, 12 April 2020

Review Ventela - Pemakaian Selama 5 Bulan

Review Ventela

Pemakaian 5 bulan

Sepatu lokal dewasa ini sudah menjadi trend yang sedang menjamur dikalangan anak muda. Termasuk aku, masih masuk dalam kategori muda kan ya aku meskipun umurku sekarang sudah menginjak 26 tahun ( ontheway)


Nah di postingan sebelumnya aku sempat mereview sedikit hal tentang ventela. Mulai dari packaging hingga dalemannya. Dengan kesimpulan bahwa ventela adalah sepatu lokal dengan kualitas terbaik yang pernah aku dapati. Kalau dari segi penampilan mungkin dia masih beberapa series mengikuti design sepatu lain. Seperti hal nya vans, beberapa waktu yang lalu ventela mengeluarkan series retro kalau gak salah. Dan itu bentuknya kurang lebih hampir sama banget dengan vans oldskool. Hanya saja dia shape nya khas ventela. Yang memang pada dasarnya shape dari ventela ini sekilas kalau kita lihat pasti orang awam akan tahu kalau itu adalah shape vans yang di bengkokan sedikit. Hahah but memang tidak bisa dipungkiri, semua seni didunia ini tidak ada yang authentic


Kali ini aku akan share sedikit tentang daya tahan ventela selama 5 bulan. Kebetulan sepatu ini aku pakai hanya untuk berangkat kerja saja. Karena sesampai nya di kantor aku harus ganti safety shoes. Tapi jangan salah, pemakaian selama mengendarai motor juga cukup ekstrim. Kadang sol bawah keseret aspal. Kadang pas lagi nurunin kaki, sepatunya kesrempet orang. Keujanan, kecipratan, kecrotan dan masih banyak hal lainnya. Sesekali juga aku pake sih jalan jalan. Ke mall, gowes juga pernah.
1.    Canvas
Semakin lama dipakai semakin enak, semakin lentur. Dan jujur aja aku gak pernah make kaos kaki, kaos dalam dll. Jadi kaki langsung nyentuh sepatu. Kotor? Ya jelas. Gpp kotor kan murah sepatunya haha. Tapi gak murahan aku akuin. Selama pemakaian sepatu ini makin kesini aku sama sekali gak ngerasain sakit di bagian tumit. Bagian belakang punggung kaki dll. All out semua aman. Gak ada luka. Karena biasanya sepatu canvas itu kalau ga make kaos kaki pasti lecet kakinya. Tapi yang ini enggak.
Anyway aku make ventela series Hi ya yang mirio converse 70s. Dulu kena harga 160K


2.    Midsole
Ini nih yang paling keren juga. Selama lima bulan pemakaian gak ada yang namanya nekuk2 club di bagian tekukan kaki yang biasanya kalau kita berlutut pasti ketekuk kan. Nah ini lemnya ga kebuka sama sekali. Jadi masih utuh seperti baru. Heran juga sih kenapa gak bisa ngelupas. Kalau dibandingkan dengan sepatu sebelah yang hype nya minta ampun. Belum sebulan lem nya udah lepas. Ditambah lagi menguning. Kalau ventela ini jujur aja jarang aku cuci juga. Seingetku hanya dua kali deh karena memang kena ujan dan kena lumpur gitu hahaha. Tapi ventela gak menguning midsolenya. Good lah



3.    Insole
Kotor doang sih ini, karena aku gak make kaos kaki. Empuknya juga gak berkurang. Kalau lokal lainnya itu insole nya jadi agak gepeng dan ngebentuk tumit. Padahal juga jarang di pake saking hypenya. Tapi ventela yang setiap harinya aku pake gak ada bekas lekukan tumit kaki. Ya itu tadi masalah Cuma kotor dan satu lagi, tulisan ventela di insolenya saja yang memang agak rapuh. Secara material dia kayak sablon setrikaan gitu. Mungkin kurang panas atau gimana juga aku kurang tau sih.



4.    Outsole
Masih kokoh tak tertandingi sih. Gak ada tuh yang kegerus. Kalau yang sepatu sebelah baru dipakai beberapa kali udah kegerus. Apalagi bagian belakang dan depan pasti kondisi miring gak karuan. Helpatch nya juga gak kegerus sih masih bagus. Kalau vans biasanya lama lama pasti ilang ya. Atau mungkin karena bahannya ini agak lebih keras karetnya. Idk. But okelah.
Secara keseluruhan sih sepatu ventela ini masih Ok meskipun sudah aku pakai selama 5 bulan. Seperti saranku yang sudah sudah. Ventela harus memiliki shape atau design sendiri yang mencirikan itu ventela. Kalau masih mengikuti design atau gaya sepatu lain, aku yakin lokalisasi ini gak akan bertahan lama. Karena apa ya, orang pasti malu. Menggunakan brand yang bisa dibilang kawenya sepatu lain. 

Tapi dengan harga yang terjangkau, mungkin masih bisa dia bersaing karena memang untuk pasar indonesia memilih murah dan berkualitas. Dan itu ada di sepatu Ventela.
Anyway, ventela baru aja release sepatu barunya. Sebenernya sih ini sama seperti Ventela public releasan pertama kali satu tahun lalu. Sekarang ini yang membedakan adalah dia dibagian depannya materialnya seperti vintage nya compass. Bergerigi kayak dagunya Thanos. Harganya juga lebih mahal 100K. Kalau dulu bahannya ga full suede, sekarang ini Ventela Public Suede nya full.

Tapi gokil sih keren menurut aku. Mungkin nanti aku beli 1 pengen coba buat gantinya ventela yang sekarang ini aku pakek.
Oke cukup sampai disini dulu ya. Review singkatnya. 

See you ~

Saturday, 11 April 2020

Belajar dari Waktu, Untuk tidak Membuang Waktu

==XxxxX==

Sebuah Cerita

Cinta itu bukan perkara gampang, bukan juga susah. Lantas apa?
Ya susah susah gampang sih jujur aja. Menjalani sebuah hubungan antara dua hati. Aku dan dia. Kamu dan dia. Menyatukan dua perasaan, pemikiran, sifat dsb. Itu hal yang tidak mudah. Meskipun diluaran sana banyak orang yang bisa bahagia dengan pasangannya. Itu semua tergantung kita yang menjalaninya. Mau bersyukur atau mau terus merasa kurang.
Mungkin aku salah satu orang yang tidak mudah untuk memulai. Tapi untuk mengakhiri pun enggan. 
Aku berfikir seperti ini, kenapa kita harus mengakhiri sesuatu yang sudah kita jalani? Mungkin ada sebagian orang yang ingin berimprovisasi. Apa mungkin aku yang tidak terlalu kreatif sehingga terpaku dengan kondisi sekarang yang sudah ada? Entahlah. Yang jelas aku Cuma berfikir, untuk apa memulai sesuatu hal baru lagi tapi akhirnya juga sama seperti itu lagi. Trauma bukan sih itu?
Anyway, dari sekian banyak wanita yang aku kenal dengan bermacam macam suku ras budaya hingga ukuran. Semua kurang lebihnya sama. Endingnya sudah bisa kutebak.
Tapi apakah semua seperti itu? Aku percaya sih enggak. 
Aku juga termasuk orang yang tidak bisa bangkit dari zona nyaman. Atau memang aku tidak mau untuk memulai hal baru kecuali dalam kondisi yang tidak memungkinkan. Seperti contohnya misal aku dari awal kuliah tidak pernah pindah dari kos yang aku tempati sejak awal. 4 tahun lamanya aku mendiami kamar itu. Masih teringat jelas setiap sudutnya ada barang apa. Buang tisu dimana aku juga masih ingat.
Kenapa gak pindah kos an sih?  Ini pertanyaan yang bagus sih. Aku enggan untuk memulai hal baru kecuali dalam kondisi yang tidak memungkinkan. Noted ya
Dari situ saja aku sudah paham akan diriku sendiri. 
Sekarang ini dari awal kerja di Bekasi, aku juga gak pernah memutuskan untuk pindah dari tempat ini. Kenapa? Udah terlanjur nyaman. Entah nanti kalau aku sudah memiliki rumah sendiri (doakan ya) aku hedon anaknya haha.

Aku suka mendengarkan lagu ini dari itunes. Coba cek ya
Balik lagi ke konten cerita awal.
Dulu aku pernah mejalin hubungan dengan seorang wanita ketika aku pertama kali pindah ke bekasi. Lumayan sih beberapa bulan aku menjalin hubungan dengan dia. Tapi karena sesuatu hal akhirnya kita memutuskan untuk berpisah..,
Sejak saat itu aku mulai lelah, bosan dan enggan untuk mencari penggantinya. Aku bukan orang yang mudah untuk memulai. Sangat membosankan menceritakan siapa aku ke orang baru. Aku yang masih banyak kekurangannya ini hehe.
Memang benar, ketika usia kita beranjak semakin dewasa, semakin sedikit circle pertemanan kita. Aku masih ingat dan terngiang jelas ucapan salah satu guru di sebuah SMK tempat aku magang
“Mas, nyari jodoh kalau semakin tua semakin susah, circel pertemanan kamu semakin sedikit. Apalagi kamu ketika sudah kerja. Akan sedikit banyak waktumu disibukkan dengan kerja dan lupa untuk mencari sosok itu. Makanya sebelum lulus kamu harus cari mas” said ibu siapa namanya aku juga lupa hehe. Yang jelas orangnya baik kok. Gak jarang waktu itu banyak cerita dengan dia mengenai kegagalan – kegagalanku. 
Dari situlah semua terbukti benar adanya. Lingkungan kerjaku mayoritas sekarang ini sudah berumur dan lebih banyak bapak bapak nya. Tapi masih banyak sih bocah-bocah yang umur 20 an gitu. Banyak sih yang cantik, tapi cantik bagi aku bukan hal utama. Tapi bagaimana dia bisa memperlakukanku dengan baik.
Aku beberapa kali kenal dengan wanita-wanita yang ada di Bekasi, Jakarta dan sekitarnya. Memang, cantik dan seksi seksi. Tapi itu tidak cukup sih bagiku.
Ada yang cantik tapi treatment dia tidak bagus, ada pula yang seksi tapi mata duitan. WTH buat apa sih? Banyaknya mereka disini mencari materi. Mencari kemapanan. Bukan mencari orang yang benar-benar dia suka karena memang ingin membangun sebuah chemistry bersama.
Membangun sebuah hubungan tidak bisa dilakukan dari satu sisi saja. Tapi kita harus saling menerima satu sama lain. Entah itu dari kelebihan dan kekurangan masing-masing
Sekarang, aku belajar. Mencintai bukan karena rupa saja, mencintai bukan karena materi saja. Tapi mencintai semua kekurangannya. Dan menysukuri semua kelebihannya. Aku, berterima kasih sudah bisa seperti sekarang ini. Terima kasih untuk kalian yang pernah hadir dalam hidupku yang sudah tidak muda lagi ini. Terima kasih untuk kalian yang pernah bersandiwara, drama klasikal ataupun hanya acting untuk sekedar menyenangkanku. Hehehe
Once again. Thank you very much 
Cuma ingin menjadi manusia yang lebih baik dari hari ini, terima kasih …
Halusinasi

Halusinasi

Hmm, sebotol air mineral telah aku tenggak dengan perlahan sebelum aku putuskan menulis semua ini. Kenapa kudu minum? Karena minum menurut penelitian arkeolog ,dan BMKG dapat menyebabkan kencing jika terlalu banyak.

Ini malam minggu dan itu B aja bagiku. Malam apapun sama, sama-sama jauh dari orang terkasih. Iye elu, lagi baca kan? Yaudeh lanjutin bacanya tapi jangan baper. Cuma mau berbagi cerita doang. Kaga usah belebihan, gue sayang ama lu kok. (note: kalau cowo yang baca kesenengen lu yee, gue tampol juga lu ye. Jangan ngarep gue homo, tauk deh kalau besok gimana).

Oke kembali lagi ngomognya aku kamu aja. Dulu pas aku masih di Malang, seawal jadi maba dan awal naik ke permukaan ini blog seringnya make lu gua lu gua. Nah sekarang giliran aku ada di Jabodetabek yang notabennya aliran lu gua lu gua adalah base nya. Tapi aku enggan nulis menggunakan gue. Gatau kenapa lebih nyaman aku.

But gak usah dipermasalahin, Aku, Gue, Aing atau Anjing mah sama aja. Bonex Viking sama saja, sama-sama suporter bola yang keren. Please kalau kalian baca kalimat diatas jangan pake nada ya. Kalau kalian yang gatau nadanya gimana, coba tanya sama mbak Denada atau Iis Dahlia. Asal jangan awkarin atau younglex. Makan bang.

OH ya…

Aku sekarang domisili di Bekasi, tepatnya didekat pintul keluar Bekasi Barat. Kenapa aku ada disini? Inilah rejekiku.

Ada sedikit cerita, sebenernya sih gak mau ceritain ini. Berhubung bahas tempat tinggalku yang sekarang, jadi aku harus menceritakannya juga. Kasihan buat kalian yang penasaran para secret admirer-ku.

Jadi gini…

Pada dasarnya kita tidak boleh berburuk sangka kepada Tuhan. Percayalah, apa yang telah diberikan oleh Tuhan adalah itu yang terbaik untuk kita. Karena belum tentu yang terbaik menurut kita adalah yang terbaik di mata Tuhan. Percayalah Tuhan Maha Segala-galanya.

Dulu aku dari lulus SMA masuk ke perguruan tinggi susahnya bukan main. Sampai ketika aku ada pada titik terakhir dan itu satu-satunya pilihan terakhirku jikanya nanti aku tidak diterima diperguruan tinggi negeri itu mungkin aku sekarang sudah menjadi seorang santri yang menghapalkan berbagai Hadist dan Al-Quran. Tapi Tuhan berencana lain, Tuhan menjawab doaku, aku diterima di salah satu perguruan tinggi negeri di kota Malang. Yaaa, pada awalnya aku agak berat menerimanya. Satu dua semester akhirnya aku paham. Inilah jalanku, rejekiku. Karena pada dasarnya setiap orang memiliki jalan dan rejekinya masing-masing. Trust me, Allah is Best Planner. Bener gak tulisannya gitu? Sorry for my english language so bad but bad bad bad ah bad bad ah. (red:bete)

Dan sekarang Alhamdulillah sewaktu aku belum wisuda aku sudah mendapatkan pekerjaan.
Sangat-sangat bersyukur dan aku tidak tahu harus bagaimana lagi selain bersyukur.

Nah segitu aja ceritanya.

Malam ini tuh malam minggu kan. Nah aku bingung mau kemana, kenapa gak ada bola sih ya malam minggu. Padahal kan lumayan kos deket sama stadion Patriot Bekasi. Bagus loh tapi sayang klub Kota Bekasi sekarang ada di divisi berapa yak? Ada yang tahu? Please jangan googling, aku juga bisa cari tahu sendiri setelah ngetik ini kelar.

Nah, kalau lagi sendiri gini suka ingat masa-masa dulu. Dari awal kecil lahir procot. Sampai sekarang ini. Tapi boong banget aku ingat masa kecil lahir procot. Aku keluarnya gimana aja kaga tau. Toh anak kecil dibawah lima tahun akan lupa kejadian apa yang telah dilewati selama lima tahun itu. (menurut sumber gakterpercaya sih yang aku baca gitu).

Kangen masa SD, SMP, SMA hingga kuliah.

Kangen masa beli jajanan SD, main gamebot di sekolahan waktu istirahat, ngirim surat cinta ke teman satu kelas. Bukan berati gue nyebarin surat ke satu kelas. Tapi teman ku yang kelasnya kebetulan sama.

Kangen nyolongin duit emak buat main PS, kangen apa lagi ya. Oh ya, kangen main kartu gambar itu tuh apaan ya lupa juga. Ah banyak lahhhh.
SMP -  Kuliah. Kangen semua termasuk mantan ! *bukan.